Pemerintah mengklaim adanya tambahan sekitar 50 cekungan sedimen baru di beberapa daerah di
Sukhyar mengungkapkan, 128 cekungan tersebut rata-rata ditemukan pada kedalaman 1.000 kilometer dari permukaan tanah, yang letaknya beragam baik di darat maupun di laut lepas. Melalui interpretasi gaya berat melalui analisis geologi dan geofisika, cekungan tersebut diperkirakan menyimpan cadangan migas yang potensial.
Namun, untuk memastikan besar cadangan potensial migas itu, lanjut Sukhyar, data cekungan tersebut perlu ditindaklanjuti dengan penyelidikan seismik. “Dari 128 cekungan itu, sekitar lima sampai enam cekungan merupakan redefinisi dari blok migas yang tidak laku karena belum ditemukan cadangan potensial,” katanya.
Hingga 2006, hanya sekitar 16 cekungan dari 60 cekungan yang dimiliki
Secara terpisah, Dirjen Migas Departemen ESDM Evita Herawati Legowo mengatakan, pihaknya berharap tambahan cekungan sedimen migas tersebut akan meningkatkan produksi migas nasional. Sejak 2006, produksi minyak mentah di bawah satu juta barel per hari. Sementara itu, produksi gas bumi selang beberapa tahun terakhir berada di atas satu juta barel setara minyak.
Di sisi lain, Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Departemen ESDM A Edy Hermantoro menilai, informasi cekungan sedimen itu memberikan peluang bagi
Edy menambahkan, pemerintah tidak memberikan insentif yang terlalu signifikan untuk pengembangan blok baru. Insentif yang paling mungkin adalah persetujuan komitmen investasi berdasarkan segi keekonomian investasi. Artinya, segala risiko yang berkaitan dengan pengembangan blok itu diserahkan pada pertimbangan ekonomis, yang langsung diperhitungkan dalam pembagian keuntungan. “Pemerintah dan kontraktor tetap memperolah keuntungan dari investasi tersebut,” tambahnya.
Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, eksplorasi dan produksi migas tetap merupakan tulang punggung penerimaan negara. Tambahan cekungan itu memberikan peluang pengembangan lapangan baru yang berakibat langsung pada penerimaan negara. Data itu seyogyanya menjadi titik awal penemuan cadangan migas baru, yan berdampak positif untuk negara.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Agusman Effendi mengatakan, tambahan cekungan tersebut masih merupakan data awal yang belum bisa dijadikan patokan untuk mengatakan adanya tambahan cadangan migas baru. Data tersebut perlu disurvei lebih lanjut, sehingga menghasilkan penemuan lapangan migas baru yang potensial. “Pemerintah bila perlu segera menawarkan cekungan itu kepada investor yang berminat menggarap potensi tersebut,” katanya kepada Investor Daily, tadi malam.
Sumber : Harian Investor Daily, 20/05/2009 21:23:23 WIB
Oleh Alexander Yopi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar